Oleh-Oleh Dari Munas VI
@ Cahyadi Takariawan
"Apa oleh-oleh Munas, Pak Cah?" demikian pertanyaan sangat banyak kawan, saat saya pulang ke Jogja kemaren sore.
"Sangat banyak," jawab saya.
"Spill dooong..." ungkap mereka.
Hayuuuk, saya spill sedikit demi sedikit yaaa....
Sore ini saya bercerita tentang buku "Lima Rumah Perjuangan" karya Presiden PKS Dr. Almuzzammil Yusuf yang dilaunching saat Munas. Buku ini diawali dengan basic yang paling basic, yaitu rumah tangga.
Mengapa rumah tangga menjadi nomer satu, dari lima Rumah Perjuangan yang ditulis dalam buku setebal 264 halaman tersebut?
Sebuah studi dilakukan oleh John Defrain dan tim, selama lebih dari 30 tahun di lebih dari 40 negara. Para peneliti menemukan, bahwa berbagai macam masalah di dunia ini dapat bermula atau bersumber dari keluarga, sekaligus bisa berakhir di dalam keluarga pula. "Semua masalah di dunia ini dapat bermula atau berakhir di keluarga", ujar para peneliti (Defrain, 2019).
Hal ini menandakan bahwa rumah tangga, adalah pusat perubahan sekaligus pusat pengendalian. Maka kita menjadi mudah memahami perintah Allah Ta'ala, "Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu" (QS At-Tahrim: 6).
Semua kebaikan bermula dari keluarga. Semua permasalahan juga bermula dari keluarga. Maka kita harus memulai perbaikan bangsa dan negara dari rumah tangga kita.
Di dalam rumah, kita mendapatkan ketenangan jiwa. Jika kita sering menyebut istilah sakinah, mawadah dan rahmah, maka semua hanya ada di rumah. Tidak kita jumpai di hotel mewah, tidak kita jumpai di rumah sebelah, tidak pula di belantara hutan antah berantah. Kita menjumpai ketenangan itu hanya di rumah.
Betapa rasa tenang, aman, nyaman kita rasakan di dalam rumah, walau rumah kita sederhana dan apa adanya. Saat rasa lelah dan jenuh melanda, maka pulang ke rumah adalah pilihan yang tepat. Di rumah kita mendapat limpahan ketenangan.
Di rumah kita mendapatkan semangat, energi dan spirit. Aktivitas sehari-hari telah membuat kita mudah terjebak dalam kehidupan yang mekanistik. Melelahkan dan menguras tenaga.
Berbagai persoalan kehidupan yang kita temukan dalam dunia pekerjaan, profesi, dakwah dan kebangsaan, seringkali membuat kita merasa kehabisan energi. Namun pulang ke rumah telah membuat kita menemukan kembali energi, mendapatkan limpahan spirit yang sangat besar.
Bertemu orang-orang yang dicintai dan mencintai, telah membuat kita memiliki semangat untuk memberikan yang terbaik. Inilah energi untuk meraih kemenangan.
Buku ini memang sangat istimewa dalam memaknai rumah. Sangat mendalam penuturan yang bermula dari kristalisasi hikmah menempuh kehidupan. Diramu dengan sangat apik, antara ilmu, wawasan, perenungan, pengamatan dan pengalaman. Membuat buku ini benar-benar hidup untuk menasehati dengan kelembutan hati, menuntun dengan santun, mengarahkan dengan sopan, dan menggerakkan mencapai tujuan.
"Lima Rumah Perjuangan" ini adalah kompas dan pondasi integritas bagi setiap kader dakwah. Karena rumah adalah pusat ketenangan dan kemenangan. Karena perjuangan harus bermula dari rumah dan kembali pula ke rumah.
Komentar
Posting Komentar