*ONE DAY ONE HADITS*
Senin, 3 November 2025 / 12 Jumadil awal 1447
*Menjaga Adab dalam Berbicara Sebagai Cerminan Iman dan Akhlak Mulia*
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ:
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صل الله عليه وسلم:
«إِنَّ أَبْغَضَكُمْ إِلَيَّ، وَأَبْعَدَكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ: الثَّرْثَارُونَ، وَالْمُتَشَدِّقُونَ، وَالْمُتَفَيْهِقُونَ».
قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، قَدْ عَلِمْنَا الثَّرْثَارُونَ وَالْمُتَشَدِّقُونَ، فَمَا الْمُتَفَيْهِقُونَ؟
قَالَ: «الْمُتَكَبِّرُونَ».
— رواه الترمذي وقال حديث حسن
Dari Abdullah bin 'Amr radhiyallahu 'anhuma, Rasulullah shalallahu alaihi wa salam bersabda:
"Sesungguhnya orang yang paling aku benci dan paling jauh tempat duduknya dariku pada hari kiamat adalah:
- Ats-Tsartsarûn (الثَّرْثَارُونَ)
Orang yang banyak bicara tanpa faedah, suka memotong pembicaraan, dan merasa dirinya paling pintar.
- Al-Mutasyaddiqûn (المُتَشَدِّقُونَ)
Orang yang berbicara dengan dibuat-buat, mengeraskan suara, atau memakai gaya bahasa untuk pamer kefasihan.
- Al-Mutafaīhiqûn (المُتَفَيْهِقُونَ)
Orang yang sombong dalam berbicara, menundukkan orang lain dengan kata-katanya, atau meremehkan lawan bicara.
Para sahabat bertanya:
"Wahai Rasulullah, kami sudah tahu siapa ats-tsartsarûn dan al-mutasyaddiqûn, tetapi siapa al-mutafaīhiqûn?"
Beliau menjawab:
"Yaitu orang-orang yang sombong."
(HR. At-Tirmidzi, no. 2018 – dinilai hasan)
Pelajaran yang terdapat di dalam hadits :
1- Islam mengajarkan adab dalam berbicara.
Lisan adalah amanah. Setiap kata yang keluar akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.
"Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam."
(HR. Bukhari & Muslim)
2- Jangan terlalu banyak bicara tanpa manfaat.
Ats-tsartsarûn adalah orang yang banyak bicara hanya untuk didengar, bukan untuk kebaikan.
Nabi shalallahu alaihi wa salam membenci perilaku ini karena:
- Membuka peluang salah dan dosa,
- Menyakiti orang lain dengan ucapan,
- Menyia-nyiakan waktu tanpa faedah.
- Kendalikan lidah. Ucapkan yang baik, ringkas, dan bermanfaat.
3- Jangan sombong atau pamer kefasihan
Al-mutasyaddiqûn dan al-mutafaīhiqûn menggambarkan orang yang berbicara dengan gaya dibuat-buat — ingin dianggap pintar, atau merendahkan orang lain.
Rasulullah shalallahu alaihi wa salam membenci gaya bicara yang berlebihan karena mengandung kesombongan hati.
Kefasihan dan ilmu bukan untuk pamer, tapi untuk menyampaikan kebenaran dengan rendah hati.
4- Kesombongan bisa tampak dari cara bicara.
Bukan hanya dari pakaian atau kekayaan tapi juga dari nada, pilihan kata, dan sikap dalam berbicara.
Berbicaralah dengan lembut, tidak meninggikan suara, dan menghormati lawan bicara.
5- Kedekatan dengan Rasulullah shalallahu alaihi wa salam ditentukan oleh akhlak lisan
Rasulullah shalallahu alaihi wa salam bersabda bahwa orang-orang ini akan paling jauh tempat duduknya dari beliau di hari kiamat. Artinya, siapa yang menjaga lisannya akan lebih dekat dengan Rasulullah shalallahu alaihi wa salam dan mendapatkan syafaatnya.
Menjaga lisan termasuk tanda cinta kepada Rasulullah shalallahu alaihi wa salam.
Hadis ini menanamkan:
- Rendah hati dalam berbicara,
- Menjaga diri dari ucapan sia-sia dan sombong,
- Mengutamakan manfaat dan adab lisan.
Tema hadist yang berkaitan dengan Al Qur'an :
1- Larangan banyak bicara yang sia-sia. Orang yang "banyak bicara tanpa manfaat" (ats-tsartsarûn) termasuk dalam perbuatan laghw (sia-sia) yang dijauhi oleh orang beriman.
وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ
"Dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perkataan dan perbuatan) yang tiada berguna."(QS. Al-Mu'minûn [23]: 3)
2- Larangan sombong dalam berbicara. Melarang sikap sombong dalam tutur kata dan perilaku — sejalan dengan larangan al-mutasyaddiqûn dan al-mutafaīhiqûn
وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ
وَاقْصِدْ فِي مَشْيِكَ وَاغْضُضْ مِن صَوْتِكَ ۚ إِنَّ أَنكَرَ الْأَصْوَاتِ لَصَوْتُ الْحَمِيرِ
"Dan janganlah kamu memalingkan wajahmu dari manusia (karena sombong), dan janganlah kamu berjalan di bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri."
"Dan sederhanakanlah dalam berjalanmu dan lunakkanlah suaramu; sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai."QS. Luqmān [31]: 18–19)
3- Perintah berbicara dengan lembut dan benar. Mendorong agar setiap ucapan memiliki manfaat dan kebenaran (qawlan sadīdan), bukan dibuat-buat atau sombong.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا ، يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ
"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar. Niscaya Allah memperbaiki amal-amalmu dan mengampuni dosa-dosamu."QS. Al-Ahzāb [33]: 70–71
4- Anjuran untuk berkata lembut.
Jika kepada Firaun saja Allah perintahkan berbicara lembut, apalagi kepada sesama muslim — tidak pantas berbicara dengan angkuh atau kasar.
فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَيِّنًا لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَى
"Maka berbicaralah kepadanya (Firaun) dengan kata-kata yang lembut, mudah-mudahan ia sadar atau takut."QS. Ṭāhā [20]: 44
Komentar
Posting Komentar