ANALISA RECEH TEKTOK

*ANALISA RECEH TEKTOK*

*"Di Republik yang Gemar Lupa, Relawan Menjadi Ingatan"*
*_Bagaimana PKS Mengubah Bencana Menjadi Bahasa Politik_*

_Pereceh: Boy Hamidy*_

Panggung Dibuka dari Medan: Saat Ribuan Relawan Oranye Berdiri Tegak

Mari kita mulai dari Medan: ribuan relawan PKS berbaris rapi dalam apel siaga, komando langsung dari Presiden PKS. Barisan oranye itu seperti visualisasi dari kalimat yang sulit diucapkan oleh banyak partai: "Kami siap sebelum bencana, hadir saat bencana, dan tetap tinggal setelah kamera pulang."

Dan setelah itu Presiden PKS mirip Bang Toyib yang gak pulang-pulang, turun langsung sebagai relawan dan menginap di daerah terdampak. Sesuatu yang data risetnya belum ditemukan di parpol lain sampai saat ini.

Perilaku ini dalam branding disebut signaling—mengirim pesan tanpa kata, hanya melalui tindakan. Dan tindakan yang konsisten jauh lebih lantang daripada jargon kampanye yang disiapkan konsultan.

Sumatra sering menjadi panggung tragedi nasional—banjir di utara, longsor di barat, badai di selatan. PKS datang dengan rompi oranye, tenda darurat, dan ekspresi siap-siaga.

Di republik yang punya anggaran mitigasi bencana tapi sering lupa dimitigasi, ribuan relawan PKS berdiri seperti simbol perlawanan kecil terhadap birokrasi yang selalu datang lima jam setelah semua orang selesai bersedih.

Kita belum bicara politik. Ini baru soal kehadiran—dan presence branding, kehadiran fisik yang konsisten adalah bentuk komunikasi paling primitif sekaligus paling efektif.

Di negeri yang lebih sering absen daripada hadir, kehadiran 'katanya sih' sudah separuh kemenangan.

Politik Pelayanan: Ketika Citra Diselamatkan dengan Cangkul, Bukan Konsultan

Politik Indonesia itu ibarat speaker karaoke: volumenya besar, kualitas audionya tergantung listrik. Banyak partai sibuk menggertak, bersuara, dan menyusun tagline yang tidak pernah turun ke tanah.

PKS agak laen. Mereka tidak banyak bicara. Atau bicara seperlunya sambil mengangkat karung berisi logistik.
Dalam embodied communication, tubuh yang bekerja lebih dipercaya daripada mulut yang berbicara. PKS mempraktikkannya tanpa pernah menyebut istilahnya.

Kalau partai lain membangun citra dengan poster raksasa, PKS membangunnya dengan cangkul dan shift relawan. Iya, shift—seolah pelayanan adalah aplikasi berbasis jadwal, bukan program kerja partai.

Pelayanan mereka bukan aktivitas ad-hoc; ia adalah liturgi organisasi. Amal Jama'i bukan jargon, melainkan alasan mengapa mereka relawan bisa bekerja tanpa insentif, tanpa buzzer, tanpa invoice.

Ironi manisnya begini: Yang lain membangun baliho, PKS membangun posko. Yang lain membangun framing, PKS membangun hubungan emosional.

Dalam teori branding, ini disebut experiential brand—brand yang dibangun bukan dari kata, tapi dari pengalaman langsung.
Dalam politik elektoral, itu sebetulnya modal reputasi yang tidak bisa dibeli.

Cianjur: Ketika Gempa Menguji Moral, dan Politik Menguji Kesabaran

Gempa Cianjur 2022 menjadi ruang uji: siapa yang punya mesin, siapa yang punya niat, siapa yang punya cukup disiplin untuk hadir tanpa konferensi pers.

PKS datang cepat, langsung bekerja, menggunakan sistem rotasi relawan yang tidak pernah terdengar di partai lain. Mereka mendirikan posko yang berfungsi ganda: logistik dan pemulihan psikologis. Mereka membersihkan puing dengan stamina yang membuat aparat daerah tampak seperti sedang cooldown.

Dalam crisis communication, kecepatan respon bukan sekadar tindakan; ia adalah pesan. Bencana adalah panggung di mana kehadiran menjadi performa dan performa menjadi identitas.
Dan pemilu 2024 membuktikan sesuatu yang menarik: PKS mempertahankan kekuatannya bahkan menambah kursi. Di tengah badai coattail effect di Jawa Barat, PKS di Cianjur justru naik angka—bukan karena kampanye, tetapi karena memori warga tentang siapa yang datang ketika rumah mereka rubuh.

Dalam psikologi politik, ini disebut episodic memory effect—pemilih mengingat siapa yang hadir di momen paling rapuh hidupnya.

Bencana menjadi cermin moral; pemilu menjadi cermin ingatan. Di Cianjur, ingatan itu bertahan.

Di Sigi: Di Mana Kebaikan Tidak Cukup dan Politik Mengingatkan Kita Bahwa Dunia Ini Kadang 'Ya Gitu Deh'

Namun politik bukan novel yang selalu memberi akhir bahagia syalalalala.Mari ke Sigi, Sulawesi Tengah.

Di sana, relawan PKS bekerja sampai titik absurd:  
– menggali jenazah dari tanah likuefaksi, 
– membersihkan lumpur pekat yang bahkan alat berat pun menyerah, 
– mengobati trauma, bukan hanya luka.

Bencana 2018 memberi ruang bagi PKS untuk menunjukkan sisi paling manusiawi mereka.

Lalu enam tahun berlalu. Pemilu datang. Dan hasilnya? PKS hanya duduk di posisi yang bahkan tidak pantas disebut "tengah".

Inilah kenyataannya: Di beberapa daerah, uang tunai lebih diingat daripada keringat dan air mata relawan. Patron lokal lebih dipercaya daripada partai luar daerah. Dan trauma bencana tidak selalu berubah menjadi suara.

Ini disebut free-rider voter paradox—pemilih menikmati manfaat dari satu pihak, tetapi memilih pihak lain yang memberi jaminan material.

Sigi mengajarkan pelajaran pahit: Bahkan kebaikan yang paling tulus pun gak selalu punya efek elektoral.

Di sana, PKS menang di hati, tapi hati tidak selalu mencoblos sesuai keluhuran nurani.

Relawan sebagai Doktrin: Senjata Politik yang Tidak Bisa Dinetralkan

Hal yang paling mengganggu pesaing politik PKS mungkin adalah ini: Relawan bukan strategi. Relawan adalah identitas.
Di partai lain, relawan adalah tim sukses. Di PKS, relawan adalah teologi yang dipraktikkan.

Dalam teori identity-based politics, partai yang berbasis etos lebih sulit diserang karena kritik terhadap mereka terasa seperti kritik terhadap nilai moral.

Anda menyerang ideologinya, mereka balas dengan video relawan membersihkan Lumpur dan mengevakuasi jenazah. Anda menyerang narasinya, mereka balas dengan posko yang sudah berdiri sebelum Anda selesai menyusun press release.

PKS tidak sekadar punya political brand. Mereka punya political ethic yang terus direproduksi di lapangan bencana.
Sebuah etika yang—suka atau tidak—menjadi kekuatan.

Munculnya Realitas Baru: Politik Indonesia Sedang Bermigrasi ke Jalur Relawan

Kita mungkin sedang menyaksikan mutasi politik: Partai yang paling duluan datang saat bencana adalah partai yang paling lama diingat setelahnya. Walaupun soal dipilih atau nggak realitanya ada banyak faktor lain yang mengiringnya, memang politik Indonesia tidak semudah itu ferguso.

Ini sangat selaras dengan teori top-of-mind awareness: yang paling sering muncul di saat paling genting adalah yang paling cepat melekat di benak publik.

Dan PKS—entah disengaja atau tidak—memegang lisensi eksklusif genre ini.

Di republik yang selalu kebanjiran, partai yang memegang sekop lebih dihormati daripada yang memegang mikrofon atau lampu dan kamera yang selalu menyala.

Brand PKS lahir dari bau bensin ambulans dan lumpur longsoran, bukan dari slogan.

Dalam teori pemasaran politik, kombinasi ini disebut authentic differentiation—keaslian yang menjadi pembeda.

Perenungan Singkat di Tengah Puing: Batas Kapitalisasi, Agar Kebaikan Tidak Berubah Menjadi Komoditas

Sebelum masuk jauh ke batas-batas moral dan etis, mari kita sepakati satu hal yang kadang diabaikan karena terlalu sederhana: Relawan PKS tetap harus memposting kerja mereka di media sosial.

Ya, harus.
Bukan untuk pamer. Riya bahasa liqonya.
Bukan untuk cari muka. Bukan untuk "like farming."

Tetapi karena publik punya hak melihat apa yang dilakukan partai dengan tenaga, waktu, dan sumber dayanya, terlebih di negeri di mana transparansi sering menguap seperti janji kampanye di pagi hari.

Media sosial adalah bukti kerja, bukti kehadiran, dan bukti akuntabilitas. Tanpa dokumentasi, pelayanan mudah dianggap mitos atau propaganda.

Namun seperti semua hal di republik yang suka kebablasan ini—yang harus dijaga bukan apa yang diposting, tapi bagaimana.
Karena medsos adalah pisau: bisa memotong kegelapan, bisa juga menusuk balik pemiliknya.

Setelah transparansi dan kewajaran itu dijaga, barulah kita masuk pada peringatan yang lebih sunyi, lebih batiniah, dan lebih sulit diajarkan dalam workshop: kebaikan yang terlalu keras dipromosikan dapat kehilangan ruhnya.

Dan di sinilah rambu-rambu itu menjadi penting—bukan untuk membatasi langkah relawan, tetapi untuk menjaga agar kerja mereka tetap mulia, bukan berubah menjadi kemasan.

*1. Jagalah Jarak dari Eksploitasi Sunyi*

Bencana adalah ruang yang tidak boleh dijadikan panggung. Dokumentasikan secukupnya, selebihnya biarkan sunyi bekerja.
Publik bisa membedakan mana "laporan kerja", mana "dramatisasi". Yang pertama menumbuhkan kepercayaan; yang kedua memancing sinisme.
Dan sinisme publik jauh lebih menakutkan daripada oposisi mana pun.

*2. Tampilkan Kerja, Bukan Kehebatan*

Transparansi bukan berarti menampilkan relawan sebagai pahlawan sinematik. Tampilkan kerja saja sebagaimana adanya: keringat, debu, lelah dan ketidaksempurnaan.
Brand kuat lahir dari kejujuran visual, bukan estetika berlebihan.
Jika hasilnya terlihat sederhana, biarkan saja. Kesederhanaan justru lebih meyakinkan daripada video yang terlalu "pro" dan mulus.

*3. Jangan Ambil Kredit Sendirian*

Dokumentasi pelayanan harus tetap menghormati ruang publik dan ruang kerja orang lain.
Postingan yang membagi peran—warga lokal, ormas lain, hingga pemerintah—justru lebih kuat narasinya daripada klaim tunggal "kami yang duluan lho."
Di dunia pelayanan, kerendahan hati lebih tajam daripada kamera tele dan wide angle.

*4. Ingat: Relawan Itu Manusia, Bukan Mesin Berjalan Tanpa Letih*

Postingan medsos sering menciptakan ilusi bahwa relawan tidak pernah lelah, selalu tersenyum, selalu siap.
Ilusi itu berbahaya—bagi kader, bagi publik, bagi kemanusiaan.
Relawan tidak boleh ditekan oleh ekspektasi performatif. Mereka juga butuh ruang pulih, jeda, dan hari tanpa rompi.
Dokumentasi harus mempertimbangkan kemanusiaan pelakunya.

*5. Jika Branding Itu Harus Terjadi, Biarkan Ia Terjadi Secara Tidak Sengaja*

Brand terbaik adalah residu dari tindakan, bukan tujuan dari tindakan.
Postingan relawan PKS harus terasa sebagai laporan, bukan iklannya PKS.
Biarkan publik yang menyimpulkan. Biarkan media yang menyebarkan, walau ini jarang terjadi untuk PKS. Biarkan masyarakat yang memuji.
Karena pujian yang lahir dari publik jauh lebih tahan lama daripada tagline yang dibuat tim kreatif.

_Epilog: Catatan Gelap dari Republik yang Selalu Terlambat_

Akhirnya kita sampai pada kesimpulan paling gelap dan paling jujur:
PKS tidak menjadi kuat karena kampanye media online maupun offline yang biasanya padat modal. PKS menjadi kuat karena republik ini terlalu suka bencana.

Di negeri yang setiap musim hujan merasa baru mengenal air, di negeri yang selalu kaget saat gunung meletus padahal gunung itu meletus setiap beberapa tahun, di negeri yang sibuk urus revisi UU tapi lupa revisi SOP mitigasi—relawan adalah mata uang yang paling stabil.

PKS sudah lama menabung dalam mata uang itu. Dan begitulah akhirnya:
Di republik yang selalu terlambat, yang datang paling awal adalah yang paling sulit dilupakan. Karena pada akhirnya, pelayanan yang tulus tidak takut pada dokumentasi, tapi juga tidak memuja kamera. Dan relawan yang bekerja karena Allah, atau karena nurani, atau karena panggilan sejarah, akan tetap bekerja meski seluruh dunia lupa memberi apresiasi.

Mungkin inilah pengingat paling bersahabat yang bisa disampaikan:
Bahwa transparansi itu perlu, tetapi kesederhanaan adalah penjaga ruhnya.
Bahwa dokumentasi itu penting, tetapi jangan sampai lebih penting daripada manusianya.
Dan bahwa kebaikan, pada akhirnya, hanya ingin dilihat oleh mereka yang sedang membutuhkan—bukan oleh seluruh jagat maya.

PKS boleh tampil di medsos, bahkan harus. Tapi biarkan cahayanya tetap lembut.

Karena relawan berlari untuk menolong, bukan untuk masuk FYP.

*Boy Hamidy�mantan, Tenaga Ahli DPR RI,�Tim Biro Pembinaan BP3U DPP PKS,�Pemerhati receh branding dan konten digital

Komentar