MUSIBAH MENIMPA AGAMA

*MUSIBAH MENIMPA AGAMA*

Oleh: Irsyad Syafar

Musibah yang menimpa kita di dunia ini berupa banjir, tanah longsor, gempa dan sebagainya memang suatu yang sangat berat menghadapinya. Apalagi bila kita kehilangan banyak harta atau bahkan kehilangan kelurga tercinta. Itu semua akan meninggalkan trauma dan luka, serta membutuhkan waktu untuk kembali normal seperti biasa.

Untuk saudara-saudara kita yang tertimpa bencana di Sumatera (Aceh, Sumut dan Sumbar) yang sampai saat ini masih jauh dari kata pulih, kita doakan semoga Allah memberikan mereka kekuatan dan mengganti kehilangan-kehilangan mereka dengan yang lebih baik. Baik kehilangan harta maupun kehilangan jiwa. Dan semoga kita terus dikuatkan untuk saling peduli dan membantu sesama kita, sekuat kemampuan yang ada.

Namun, ada musibah yang lebih berat dan lebih berbahaya. Yaitu musibah yang menimpa agama kita. Bentuknya adalah apabila seseorang semakin jauh dari Allah, lalai dan abai dari kewajiban ibadah atau jatuh ke dalam berbagai maksiat dan dosa. Maka itu semua adalah musibah yang menimpa agama.

Kalau terkait musibah dunia, Rasulullah Saw tidak memohon kepada Allah agar musibah dunia itu tidak ada. Sebab itu akan terus ada sampai hari kiamat. Melainkan yang Beliau minta kepada Allah Swt adalah agar diberi keringanan dalam setiap bencana. Sebagaimana dalam doa-doanya:

ومِنَ اليقينِ ما تُهَوِّنُ بِهِ علَيْنَا مصائِبَ الدُّنيا.

Artinya: "Dan berikan kami keyakinan (yang kuat kepadaMu) yang bisa meringankan bagi kami musibah-musibah dunia." (HR An Nasai dan Tirmidzi).

Juga di dalam doa yang lain Beliau meminta pahala dan ganti yang terbaik bila tertimpa musibah dunia. Beliau bersabda:

"مَا مِنْ عبدٍ تُصِيبُهُ مُصِيبَةٌ، فيقولُ: إِنَّا للَّهِ وَإِنَّا إِليهِ رَاجِعُونَ: اللَّهمَّ أُجِرْنِي في مُصِيبَتي، وَاخْلُف لِي خَيْراً مِنْهَا، إِلاَّ أَجَرَهُ اللَّهُ تعَالى في مُصِيبتِهِ وَأَخْلَف لَهُ خَيْراً مِنْهَا".

Artinya: "Tidak ada seorang hamba bila ditimpa sebuah musibah, lalu dia mengucapkan innalillahi wainnaa ilaihi raaji'un, dan berdoa: "Ya Allah beri aku pahala dari musibahku, dan beri aku pengganti yang lebih baik, melainkan Allah akan memberinya pahala dan menggantinya dengan yang lebih baik." (HR Muslim).

Kalau kita perhatikan sejarah Rasulullah Saw dan para sahabat yang mulia, mereka semua tidak terbebas dari musibah dunia. Kelaparan, kemiskinan, peperangan, terluka dan terbunuh, bahkan wabah penyakit yang berbahaya, semuanya pernah mereka rasakan. Bahkan pernah puluhan ribu sahabat dan tabi'in wafat karena bencana wabah penyakit menular.

*****

Adapun terkait musibah yang menimpa agama, atau fitnah yang akan merusak iman (aqidah) maka Rasulullah Saw dan para sahabat sangat berlindung kepada Allah dari itu semua. Beliau sering memohon kepada Allah agar itu jangan menimpanya. Sebab, kalau agama seseorang yang sudah rusak atau hilang, maka itu adalah sebuah kerugian yang sangat besar dan bencana yang nestapa. Sedangkan kehilangan harta dunia ataupun sekalian nyawa, itu semua masihlah ringan selama agama kita masih terjaga.

Rasulullah Saw bersabda dalam doanya yang panjang, yang sering Beliau pakai dalam mengakhiri sebuah majelis:

ولا تَجْعَلِ مُصِيبَتَنا في دينِنِا ، ولَا تَجْعَلْ الدنيا أكبرَ هَمِّنَا ، ولَا مَبْلَغَ عِلْمِنا.

Artinya: "Dan janganlah Engkau jadikan musibah menimpa agama kami, dan jangan Engkau jadikan dunia sebagai ambisi kami yang terbesar, dan jangan pula menjadi harga bagi ilmu kami." (HR An Nasai dan Tirmidzi).

Jadi Beliau sangat hati-hati agar jangan agamanya yang rusak atau berkurang, sehingga hal itu yang sering menjadi permohonan Beliau kepada Allah. Karena itu, disaat kita sekarang masih didera Allah dengan (ujian) musibah yang belum berakhir, jangan sampai kita masih saja jauh dari Allah Swt. Bila teguran dari Allah begitu nyata dan terasa di depan mata, tapi kita belum juga bertaubat, belum juga meramaikan rumah Allah, belum juga merapat kepada Kitab SuciNya (Al Quran) dan petunjuk-petunjuk NabiNya (As sunnah), seaungguhnya saat ini musibah besar sedang menimpa agama kita.

Wallahu Al Musta'an...

Komentar